Sabtu, 13 April 2013

Makalah kalimat


BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kalimat merupakan hal sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat sering digunakan dalam berdialog baik itu dalam forum resmi atau dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan kalimat yang tidak efektif, masih banyak kalimat yang salah, namun tetap masih digunakan. Oleh sebab itu kita harus mempelajari hal-hak mengenai kalimat untuk melancarkan berbahasa.

BAB II PEMBAHASAN

1.      Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap.

1.1 Unsur-unsur kalimat
1. Subjek
Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat di samping unsur predikat.
Ciri-ciri subjek adalah :
·         Jawaban atas Pertanyaan Apa atau Siapa
Contoh : laki-laki yang dirumah saya itu ayah saya
Penentuan subjek dapat dilakukan dengan mencari jawaban atas pertanyaan apa atau siapa yang dinyatakan dalam suatu kalimat. Untuk subjek kalimat yang berupa manusia, biasanya digunakan kata tanya siapa.

·         Disertai Kata Itu
Umumnya subjek dalam bahasa Indonesia bersifat takrif (definite). Untuk menyatakan takrif, biasanya digunakan kata itu. Subjek yang sudah takrif misalnya nama orang, nama negara, instansi, atau nama diri lain dan juga pronomina tidak disertai kata itu.
Contoh : Ani lahir di Banda Aceh

·         Didahului Kata Bahwa
Di dalam kalimat pasif kata bahwa merupakan penanda bahwa unsur yang menyertainya adalah anak kalimat pengisi fungsi subjek. Di samping itu, kata bahwa juga merupakan penanda subjek yang berupa anak kalimat pada kalimat yang menggunakan kata adalah atau ialah.
Contoh : bahwa masalah itu sudah dibayangkan sebelumnya.

·         Mempunyai Keterangan Pewatas Yang
Kata yang menjadi subjek suatu kalimat dapat diberi keterangan lebih lanjut dengan menggunakan penghubung yang. Keterangan ini dinamakan keterangan pewatas.
Contoh : Mahasiswa yang kehilangan orang tuanya pada saat gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 mendapat pembebasan SPP sampai selesai studinya.

·         Tidak Didahului Preposisi
Subjek tidak didahului preposisi ( kata depan ), seperti dari, dalam, di, ke, kepada, dan pada. Orang sering memulai kalimat dengan menggunakan kata-kata seperti itu sehingga menyebabkan kalimat-kalimat yang dihasilkan tidak bersubjek.
Contoh : Dari sikap dan bicaranya membuktikan bahwa perempuan itu memang pintar
Seharusnya :
Sikap dan bicaranya membuktikan bahwa perempuan itu memang pintar.




·         Berupa Nomina atau Frasa Nominal
Subjek kebanyakan berupa nomina atau frasa nominal. Di samping nomina, subjek dapat berupa verba atau adjektiva, biasanya, disertai kata penunjuk itu.

2. Predikat
Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek. Ciri-ciri predikat secara lebih terperinci adalah sebagai berikut.
·         Jawaban atas pertanyaan mengapa atau bagaimana
Dilihat dari segi makna, bagian kalimat yang memberikan informasi atas pertanyaan mengapa atau bagaimana adalah predikat kalimat.
Contoh : kota itu porak-poranda
Contoh di atas merupakan jawaban atas pertanyaan bagaimana kota itu.

·         Kata adalah atau ialah
Predikat kalimat dapat berupa kata adalah atau ialah. Predikat ini terutama digunakan jika subjek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap tidak jelas.
Contoh : jumlah pelamar S1 yang akan diterima sebagai calon pegawai negeri di lingkungan Departemen Keuangan pada tahun 2012 adalah seratus orang.

·         Dapat Diingkarkan
Predikat dalam bahasa Indonesia mempunyai bentuk pengingkaran yang diwujudkan oleh kata tidak. Bentuk pengingkaran tidak ini digunakan untuk predikat yang berupa verba atau adjektiva. Di samping tidak sebagai penanda predikat, kata bukan juga merupakan penanda predikat yang berupa nomina atau predikat kata merupakan.
Contoh : Ia tidak melupakan tugas rumahnya              predikat berupa verba
              
·         Dapat Disertai kata-kata aspek atau modalitas
Predikat kalimat yang berupa verba atau adjektiva dapat disertai kata-kata aspek seperti telah, sudah, sedang, belum, dan akan. Kata-kata itu terletak di depan verba atau adjektiva. Kalimat yang subjeknya berupa nomina bernyawa dapat juga disertai modalitas, kata-kata yang menyatakan sikap pembicara (subjek), seperti ingin, hendak, dan mau.

Unsur Pengisi Predikat
Predikat suatu kalimat dapat berupa:
1.      Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nomina.
2.      Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan).
3  Objek
Unsur kalimat ketiga adalah objek. Objek adalah suatu kata benda.  Objek merupakan unsur kalimat yang kehadirannya bersifat wajib ( tidap dapat dihilangkan ) dan dapat menjadi subjek di dalam kalimat pasif.
Ciri-ciri obejk adalah sebagai berikut :
·         Langsung di Belakang Predikat
Objek hanya memiliki tempat di belakang predikat, tidak pernah mendahului predikat.
Contoh :
Gelombang Tsunami menyebabkan kematian
       S               P                                  O
·         Dapat menjadi subjek kalimat pasif
Objek yang hanya terdapat dalam kalimat aktif dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Perubahan dari aktif ke pasif ditandai dengan perubahan unsur objek dalam kalimat aktif menjadi subjek dalam kalimat pasif yang disertai dengan perubahan bentuk verba predikatnya.
Contoh:
ü  Saya sudah mengatakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah. ( kalimat pasif )
ü  Bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah sudah saya katakana. ( kalimat pasif )
·         Tidak Didahului Preposisi
Objek yang selalu menempati posisi di belakang predikat tidak didahului preposisi. Dengan kata lain, di antara predikat dan objek tidak dapat disisipkan preposisi.
Contoh ;
Rastanti menulis sajak, cerpen, dan novel.
·         Didahului Kata Bahwa
Anak kalimat pengganti nomina ditandai oleh kata bahwa dan anak kalimat ini dapat menjadi unsur objek dalam kalimat transitif.

4. Pelengkap
Pelengkap dan objek memiliki kesamaan. Kesamaan itu ialah kedua unsur kalimat ini.
1.      Bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat.
2.      Menempati posisi di belakang predikat.
3.      Tidak didahului preposisi.
Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Berikut ciri-ciri pelengkap.

·         Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
a)   Diah mengirimi saya buku baru.
b)   Mereka membelikan ayahnya sepeda baru.
Unsur kalimat buku baru, sepeda baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan  tidak mendahului predikat.

·         Tidak Didahului Preposisi
Seperti objek, pelengkap tidak didahului preposisi. Unsur kalimat yang didahului preposisi disebut keterangan.

5. Keterangan
Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Keterangan ini dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang, oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun, supaya, jika, dan sehingga. Berikut ini beberapa ciri unsur keterangan.
·         Bukan unsur utama
Berbeda dari subjek, predikat, objek, dan pelengkap, keterangan merupakan unsur tambahan yang kehadirannya dalam struktur dasar kebanyakan tidak bersifat wajib.
·         Tidak terikat posisi
Di dalam kalimat, keterangan merupakan unsur kalimat yang memiliki kebebasan tempat. Keterangan dapat menempati posisi di awal atau akhir kalimat, atau di antara subjek dan predikat.
·         Jenis keterangan
Keterangan dibedakan berdasarkan perannya di dalam kalimat.
1. Keterangan Waktu
Keterangan waktu dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa kata adalah kata-kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin, besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam. Keterangan waktu yang berupa frasa merupakan untaian kata yang menyatakan waktu, seperti kemarin pagi, hari Senin, 7 Mei, dan minggu depan. Keterangan waktu yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor yang menyatakan waktu, seperti setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.
2. Keterangan Tempat
Keterangan tempat berupa frasa yang menyatakan tempat yang ditandai oleh preposisi, seperti di, pada, dan dalam.
3.Keterangan Cara
Keterangan cara dapat berupa kata ulang, frasa, atau anak kalimat yang menyatakan cara. Keterangan cara yang berupa kata ulang merupakan perulangan adjektiva. Keterangan cara yang berupa frasa ditandai oleh kata dengan atau secara. Terakhir,  keterangan cara yang berupa anak kalimat ditandai oleh kata dengan dan dalam.
4. Keterangan Sebab
Keterangan sebab berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan sebab yang berupa frasa ditandai oleh kata karena atau lantaran yang diikuti oleh nomina atau frasa nomina. Keterangan sebab yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor karena atau lantaran.
5. Keterangan Tujuan
Keterangan ini berupa frasa atau anak kalimat. Keterangan tujuan yang berupa frasa ditandai oleh kata untuk atau demi, sedangkan keterangan tujuan yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor supaya, agar, atau untuk.
6. Keterangan Aposisi
Keterangan aposisi memberi penjelasan nomina, misalnya, subjek atau objek. Jika ditulis, keterangan ini diapit tanda koma, tanda pisah (–), atau tanda kurang.
Contoh.
Dosen saya, Bu Iba Harliyana, terpilih sebagai dosen teladan.
7. Keterangan Tambahan
Keterangan tambahan memberi penjelasan nomina (subjek ataupun objek), tetapi berbeda dari keterangan aposisi. Keterangan aposisi dapat menggantikan unsur yang diterangkan, sedangkan keterangan tambahan tidak dapat menggantikan unsur yang diterangkan.
 Contoh :
 Siswanto, mahasiswa tingkat lima, mendapat beasiswa.
Keterangan tambahan (tercetak miring) itu tidak dapat menggantikan unsur yang diterangkan yaitu kata Siswanto.
8. Keterangan Pewatas
Keterangan pewatas memberikan pembatas nomina, misalnya, subjek, predikat, objek, keterangan, atau pelengkap. Jika keterangan tambahan dapat ditiadakan, keterangan pewatas tidak dapat ditiadakan.
Contoh :
Mahasiswa yang mempunyai IP tiga lebih mendapat beasiswa.

2.      Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah suatu jenis kalimat yang hanya terdiri atas satu inti kalimat atas satu pola dasar.

2.1  Unsur – unsur kalimat tunggal
Unsur kalimat tunggal adalah inti suatu kalimat. Inti suatu kalimat dibentuk oleh subjek dan predikat ( S-P ). Adapula yang lebih lengkap lagi, yaitu terdiri dari subjek, predikat, objek dan atau pelengkap.
Contoh :
1.      Dia akan pergi
S            P
2.      Anto membaca buku
S            P          O
3.      Adik bernyanyi lagu syukur
S             P                  Pel

2.2 Jenis-jenis kalimat tunggal
a.       Kalimat Nominal
Kalimat Nominal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata benda.
b.      Kalimat verbal
Kalimat Verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja.
c.       Kalimat adjektiva
Kalimat adjektiva adalah kalimat yang predikatnya berupa kata sifat.

2.3 Perluasan kalimat tunggal
Kalimat tunggal dapat diperluas dengan cara :
                                                     i.      Menambahkan unsur baru di samping unsur yang telah ada, yaitu keterangan.
Contoh :
Adi makan jam enam pagi. ( ket waktu )
S        P              K
Adi makan di dapur. ( ket tempat )
S        P              K
                                                   ii.      Memperluas unsur-unsur yang telah ada
Contoh :
Anak yang berbaju biru itu memakan apel. ( perluasan subjek)
              S                                P              O
Anak itu memakan apel dari kebun ayahnya ( perluasan objek)
     S             P                              O

3.      Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih, sehingga kalimat yang baru mengandung dua pola dasar atau lebih.

3.1 Jenis-jenis kalimat majemuk
Kalimat majemuk ada 3 macam, yaitu:
1.      Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara unsur-unsurnya memiliki kedudukan setara atau sederajat. Ungkapan penghubung (konjungsi) penanda kesetaraan yang digunakan adalah lalu, lantas, kemudian, atau, dan, melainkan, sedangkan dan tetapi.
Contoh:
a. Saya akan datang ke rumahmu sekarang atau nanti malam.
b. Dia sangat baik hati dan suka menolong.

2. Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah satu jenis kalimat majemuk yang unsur-unsurnya memiliki kedudukan tidak setara . kalimat majemuk bertingkat terdiri atas induk kalimat dan anak kalimat. Ungkapan penghubung yang digunakan adalah seperti jika, kalau, karena,  ketika, dan meskipun.
Contoh:
·         Meskipun telah mendapat peringatan keras dari Allah, masyarakat Aceh, tetap tidak insaf.
·         Nenek membaca majalah ketika kakek pergi ke pasar.



3.Kalimat majemuk campuran
Kalimat mejemuk campuran adalah kalimat majemk yang terdiri dari atas tiga klassa atau lebih.   Kalimat yang hubungan antara pola-pola kalimat itu ada yang sederajat dan ada yang bertingkat. Ungkapan yang digunakan adalah karena, dan, dan meskipun.
Contoh:
Saya sangat mengagumi kemandiriannya, dan kekaguman saya bertambah karena ia mampu mengatasi segala kesulitannya.

4.      Kalimat efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang benar, jelas, dan mempunyai makna yang mudah dipahami oleh pembaca secara tepat.
Ciri – ciri kalimat efektif :
1.       Kesepadanan struktur bahasa
Kesepadanan adalah keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang digunakan.
·         Kesepadanan kalimat dibangun melalui kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
·         Kesatuan menunjukkan bahwa dalam satu kalimat hendaknya hanya ada satu ide pokok.
·         Satu ide pokok tidak diartikan satu ide tunggal, tetapi ide yang dikembangkan ke dalam beberapa ide penjelas.

Beberapa Ciri Kesepadanan
·         Mempunyai struktur jelas.
·         Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan tidak  menggunakan kata depan: di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya yang ditempatkan di depan subjek.
·         Tidak terdapat subjek ganda.
·         Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh-contoh Kesepadanan
·         Kepada setiap pengendara mobil di Banda Aceh harus memiliki surat izin mengemudi = subyeknya tidak jelas.
·         Tentang kelangkaan pupuk mendapat keterangan para petani.  unsur S-P-O tidak berkaitan erat
Seharusnya :
·         Setiap pengendara mobil di Banda Aceh harus memiliki surat izin mengemudi.
·         Para petani mendapat keterangan tentang kelangkaan pupuk.
2.       Keparalelan atau kesejajaran bentuk
·         Keparalelan atau kesejajaran bentuk adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat.
·         Bila bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina.
·         Demikian pula bila menggunakan bentuk-bentuk lain.
Contoh-contoh Keparalelan:
1.      Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah pengecatan tembok, memasang lampu, pengujian sistem pembagian air, dan menata ruang.
2.      Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara wajar

3.      Ketegasan atau penekanan kata
·         Merupakan perlakuan khusus pada kata tertentu dalam kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan.
·         Ada beberapa cara penekanan dalam kalimat:
1. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu pada awal kalimat
2. Melakukan pengulangan (repetisi)
3. Melakukan pengontrasan kata kunci
4. Menggunakan partikel penegas
Penekanan Kata :
1. Menempatkan kata yang ditonjolkan di awal kalimat.
·         Sumitro menjelaskan bahwa manusia mempunyai kecenderungan tidak puas.
·         Persoalan itu dapat diselesaikan dengan mudah.
2. Repetisi
·         Saudara-saudara, kita tidak suka dibohongi, kita tidak suka ditipu, kita tidak suka dibodohi
·         Pembangunan dilihat sebagai proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi, tidak hanya berdimensi ekonomi tapi juga dimensi politik, dimensi sosial, dan dimensi budaya
3. Pengontrasan kata kunci
·         Informasi ini tidak bersifat sementara, tetapi bersifat tetap.
·         Peserta kegiatan ini adalah laki-laki, bukan perempuan.
4. Partikel Penegas
·         Andalah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah itu
·         Meskipun hujan turun, Ia tetap bersemangat berangkat ke sekolah
4.      Kehematan kata
Kehematan adalah upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu jadi  kata menjadi padat berisi.
Kehematan kata dapat dilakukan dengan cara:
·         Menghilangkan pengulangan subyek
·         Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata
·         Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat
·         Kehematan dengan tidak menjamakkan kata yang sudah jamak
1.      Contoh Menghilangkan pengulangan subyek
·         Karena ia tak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Seharusnya kata ia dihilangkan
2.      Contoh Menghindarkan pemakaian superordinate pada hiponimi kata
·         Mira adalah gadis yang memakai bajuwarna merah
Seharusnya kata warna dihilangkan
3.      Contoh Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat
·         Jangan naik ke atas karena licin.
Seharusnya kata ke atas dihilangkan

5.Kesatuan gagasan
Kesatuan gagasan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat.
Contoh :
Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.
6.Kelogisan
Kelogisan adalah terdapatnya arti kalimat yang logis/masuk akal dan penulisannya sesuai EYD.
Contoh :
Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki
5.Analisis Kesalahan Kalimat
           Kesalahan kalimat cermin pikiran kacau. Dalam kenyataan berbahasa Indonesia sehari-hari, baik lisan maupun tulis, kita sering terkendala dalam memahami gagasan atau pemikiranyang disampaikan oleh pembicara atau penulis.kesulitan tersebut akibat dari ketidak mampuan pembicara atau penulis




















BAB IV. PENUTUP
1.      Kesimpulan
·         Kalimat merupakan kata atau frasa yang mengungkapkan gagagsan secara utuh.
·         Unsur kalimat terdiri dari subjek, predikat, objek, pelengkap, dan predikat
·         Kalimat tunggal adalah suatu jenis kalimat yang hanya terdiri atas satu inti kalimat atas satu pola dasar.
·         Kalimat majemuk adalah penggabungan dua kalimat tunggal atau lebih, sehingga kalimat yang baru mengandung dua pola dasar atau lebih.
·         Kalimat majemuk ada tiga, yaitu kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.
·         Kalimat efektif adalah kalimat yang benar, jelas, dan mempunyai makna yang mudah dipahami oleh pembaca secara tepat.
·         Ciri-ciri kalimat efektif adalah mempunyai kesepadanan struktur bahasa, keparalelan dan kesejajaran bentuk, ketegasan dan penekanan kata, kehematan kata, kesatuan gagasan, dan kelogisan.














DAFTAR PUSTAKA
1.      Azwardi. 2008. Menulis Ilmiah. Banda Aceh.
2.      Sunarti & Maryani Yani. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP. Pustaka Ceria
3.      Santoso Gunawan Budi (dkk).  Terampil Berbahasa Indonesia 2 ( online )., diakses April 2010
6




1 komentar: